2 Sunnah Pagi Idul Fitri yang Sering Terlewat, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya
Surabaya - Hari Raya Idul Fitri bukan hanya tentang perayaan dan silaturahmi, tetapi juga momentum ibadah yang memiliki banyak sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan. Di antara amalan yang sering dianggap sederhana namun memiliki makna besar adalah mandi sunnah sebelum sholat Id dan makan sebelum berangkat ke tempat sholat.
Kedua sunnah ini sering kali terlewat karena kesibukan mempersiapkan hari raya. Padahal, amalan tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan memiliki nilai spiritual serta manfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Mandi Sunnah Idul Fitri sebagai Bentuk Penyucian Diri
Sunnah pertama yang dianjurkan pada pagi Idul Fitri adalah mandi sebelum berangkat sholat Id. Mandi ini bertujuan untuk membersihkan diri sekaligus memuliakan hari raya.
Para ulama menjelaskan bahwa mandi sunnah Idul Fitri termasuk bagian dari adab menyambut hari besar dalam Islam. Praktik ini telah dilakukan oleh para sahabat sebagai bentuk penghormatan terhadap momen kemenangan setelah Ramadan.
Berikut niat mandi sunnah Idul Fitri:
نَوَيْتُ غُسْلَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu ghusla ‘īdi al-fiṭri sunnatan lillāhi ta‘ālā
Artinya:
“Aku niat mandi sunnah Idul Fitri karena Allah Ta‘ala.”
Mandi sunnah ini biasanya dilakukan sebelum berangkat sholat Id, idealnya pada pagi hari setelah subuh. Selain memberikan kesegaran, mandi juga membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kenyamanan saat berkumpul dengan banyak orang.
Makan Sebelum Sholat Id sebagai Tanda Berakhirnya Puasa
Sunnah kedua yang dianjurkan adalah makan atau sekadar mencicipi makanan sebelum berangkat sholat Id. Meskipun hanya sedikit, amalan ini memiliki makna penting sebagai penanda bahwa puasa Ramadan telah berakhir.
Rasulullah ﷺ diketahui tidak berangkat sholat Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari.
Niat yang dapat dibaca untuk mengikuti sunnah ini adalah:
نَوَيْتُ أَنْ أَتَّبِعَ سُنَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
Nawaitu an attabi‘a sunnata sayyidinā Muḥammadin ﷺ
Artinya:
“Aku niat mengikuti sunnah junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ.”
Makanan yang dikonsumsi tidak harus banyak. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah ﷺ bahkan hanya memakan beberapa butir kurma. Hal ini menunjukkan bahwa yang terpenting adalah niat mengikuti sunnah, bukan jumlah makanan.
Makna Spiritual di Balik Dua Sunnah Ini
Kedua sunnah tersebut memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar aktivitas fisik. Mandi melambangkan penyucian diri setelah menjalani Ramadan, sementara makan sebelum sholat Id menjadi simbol berakhirnya ibadah puasa.
Secara tidak langsung, amalan ini mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan kehidupan sehari-hari. Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Tuhan, tetapi juga kebiasaan hidup yang sehat dan teratur.
Relevansi dengan Kehidupan Modern
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, dua sunnah ini tetap relevan untuk diterapkan. Mandi sebelum beraktivitas membantu menjaga kebersihan dan kesehatan, sementara sarapan ringan sebelum keluar rumah memberikan energi untuk menjalani hari.
Selain itu, mengikuti sunnah Nabi juga menjadi cara sederhana untuk menjaga nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya Edukasi Sunnah kepada Masyarakat
Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui atau kurang memperhatikan sunnah-sunnah kecil seperti ini. Padahal, jika dilakukan secara konsisten, amalan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan.
Edukasi tentang sunnah Idul Fitri menjadi penting agar masyarakat tidak hanya fokus pada aspek perayaan, tetapi juga memahami nilai ibadah di dalamnya.
