Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional 2025: Mengapa Kita Harus Peduli Kesehatan Gigi dan Mulut?
Surabaya - Setiap tanggal 12 September, Indonesia memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional (HKGMN). Tahun 2025 ini, peringatan tersebut menjadi momen yang semakin penting karena masalah kesehatan mulut terus menjadi perhatian serius, tiidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga mahasiswa dan masyarakat umum yang mulai merasakan dampak dari kebiasaan kurang optimal dalam merawat gigi dan mulut.
Latar Belakang HKGMN
HKGMN diinisiasi pertama kali pada tahun 2018 sebagai upaya Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut. Peringatan ini diharapkan menjadi pengingat agar setiap individu dan komunitas menerapkan kebiasaan merawat gigi yang baik: menyikat dua kali sehari, rutin ke dokter gigi, dan menjaga pola makan yang mendukung kesehatan mulut.
Kasus yang Menyentuh Nyata
Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa masalah gigi dan mulut masih sangat tinggi. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 56,9% penduduk usia tiga tahun ke atas mengalami masalah kesehatan mulut, termasuk karies gigi, gusi berdarah, dan lainnya. Namun menariknya, hanya sekitar 11,2% yang secara aktif memanfaatkan layanan dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan.
Mahasiswa juga tidak luput dari kondisi ini. Sebuah penelitian menemukan bahwa meskipun sebagian besar mahasiswa memiliki pengetahuan yang baik mengenai kesehatan gigi dan mulut, prevalensi karies giginya tetap tinggi. Di sisi lain, survei di kalangan mahasiswa menunjukkan hanya sebagian kecil yang rutin menggunakan dental floss atau berkumur setelah makan, yang merupakan dua kebiasaan penting yang bisa mengurangi risiko karies dan penyakit mulut lainnya.
Kasus nyata juga hadir dalam kegiatan pengabdian masyarakat, ditemukan bahwa banyak warga yang sudah mengalami masalah gigi, tetapi belum mendapatkan perawatan lanjutan karena akses yang terbatas dan biaya.
Mengapa Mahasiswa & Masyarakat Umum Harus Memerhatikan Ini?
Bagi mahasiswa, kesehatan gigi seringkali menjadi prioritas rendah karena kesibukan, dana terbatas, atau kurangnya pengetahuan praktis tentang perawatan yang baik. Padahal, kondisi mulut yang tidak sehat dapat memengaruhi kualitas hidup: rasa sakit, bau mulut, sulit makan atau tidur, hingga menurunkan percaya diri. Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup; perilaku nyata seperti menyikat gigi sebelum tidur, mengurangi gula, dan rutin ke dokter perlu diterapkan.
Untuk masyarakat umum, kesehatan gigi dan mulut juga berpotensi mempengaruhi kesehatan sistemik. Gusi yang meradang dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri yang merusak organ lain seperti jantung atau memicu komplikasi bagi orang dengan penyakit kronis.
Rekomendasi Praktis untuk Mahasiswa dan Masyarakat
Meski banyak inisiatif, mahasiswa dan masyarakat umum bisa melakukan langkah sederhana yang berdampak besar. Misalnya: menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, membersihkan sela gigi (flossing), mengurangi konsumsi gula, minum air yang cukup, menggunakan mouthwash jika perlu, dan rutin memeriksakan gigi setidaknya enam bulan sekali.
Bagi mahasiswa, memanfaatkan program layanan gigi gratis yang kadang diselenggarakan kampus atau komunitas bisa menjadi awal yang baik. Juga penting mengetahui dokter gigi yang tersedia di wilayah tempat tinggal atau kampus, termasuk di puskesmas, klinik kampus, atau pelayanan mobile.
Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional 2025 menjadi pengingat kuat bahwa kesehatan mulut bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Tema kesadaran, kasus nyata, dan upaya kolaboratif dari pemerintah, mahasiswa, serta masyarakat umum, semuanya menegaskan: mulut yang sehat adalah awal dari tubuh yang sehat dan kehidupan yang lebih produktif.
Dengan pengetahuan yang baik dan tindakan sederhana, dampak besar bisa tercapai. Kita semua bisa berperan, mulai dari diri sendiri agar senyum bukan hanya indah, tetapi sehat.
