Seminar Nasional IPA XVII 2025: STEAM, Teknologi Kependidikan, AI, dan Inklusivitas untuk Pendidikan IPA Berdampak
Surabaya - Seminar Nasional IPA 2025 kembali digelar pada Senin, 1 September 2025 secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal YouTube Pendidikan IPA FMIPA UNESA. Acara ini menjadi ruang akademik penting yang mempertemukan peneliti, dosen, dan mahasiswa dari berbagai daerah untuk berdiskusi tentang arah baru pendidikan IPA di Indonesia.
Meski dilaksanakan secara virtual, antusiasme peserta terlihat jelas dari interaksi aktif di ruang Zoom maupun kolom komentar YouTube. Tema tahun ini, “Sains untuk Masa Depan: Mewujudkan Pendidikan IPA yang Berdampak, Inklusif, dan Berkelanjutan”, menjadi kerangka utama yang menaungi seluruh sesi.
Acara dibuka oleh Prof. Dr. Wasis, M.Si., Dekan FMIPA UNESA. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas disiplin untuk memperkuat pendidikan IPA di tengah perkembangan teknologi. “Seminar ini bukan hanya forum berbagi ilmu, tetapi wadah membangun jejaring demi masa depan pendidikan IPA di Indonesia,” ujar Prof. Wasis.
30 Makalah Ilmiah dalam Sesi Paralel
Ketua Panitia, Dr. An Nuril Maulida Fauziah, M.Pd., menegaskan bahwa Seminar Nasional IPA 2025 tidak hanya menghadirkan pembicara utama, tetapi juga sesi paralel dengan 30 makalah ilmiah. Hal ini penting agar penelitian dan inovasi para akademisi muda mendapatkan ruang untuk diperkenalkan sekaligus diuji dalam forum ilmiah.
Paparan Pembicara Utama: STEAM, Teknologi Kependidikan, dan AI untuk Pendidikan IPA Berdampak
Tiga pembicara utama hadir dengan topik yang berfokus pada transformasi sains di era digital.
1. Prof. Dr.paed. Nurma Yunita Indriyanti, M.Si., M.Sc. menyoroti “Pendekatan STEAM dalam Transformasi Pendidikan IPA Berkelanjutan.” Menurutnya, pengintegrasian seni dalam sains melalui pendekatan STEAM membuat pembelajaran lebih kontekstual, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
2. Dr. Munzil, M.Si. memaparkan “Pembelajaran IPA berbasis Teknologi Kependidikan dan AI untuk Membangun Generasi Emas.” Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan tidak hanya mempercepat akses informasi, tetapi juga memperkaya cara mahasiswa memahami konsep IPA.
3. Dr. Dyah Astriani, M.Pd. menekankan aspek inklusivitas dalam materinya, “Membangun Pendidikan IPA Berdampak dan Inklusif.” Ia menegaskan bahwa pendidikan IPA harus bisa diakses semua kalangan, termasuk kelompok dengan kebutuhan khusus.
Refleksi dan Harapan
Rangkaian Seminar Nasional IPA 2025 tidak berhenti pada presentasi materi. Diskusi interaktif dan sesi tanya jawab membuka perspektif baru tentang bagaimana STEAM, Teknologi Kependidikan, dan AI dapat mendukung transformasi pendidikan IPA yang berdampak di Indonesia.
Acara ini juga menunjukkan bahwa seminar daring mampu menjangkau audiens lebih luas, sekaligus mendorong terciptanya kolaborasi lintas daerah. Dengan memadukan pendekatan STEAM, pemanfaatan teknologi AI, dan komitmen pada inklusivitas, pendidikan sains diharapkan mampu melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan peduli terhadap tantangan global maupun lokal.
