Design‑Based Learning: Metode Nyata untuk Ciptakan Generasi Kreatif dan Kolaboratif
Surabaya - Dunia pendidikan kini bersolek. Kurikulum berbasis hafalan bergeser ke pendekatan yang menekankan kreativitas, kolaborasi, dan problem solving. Salah satu metode yang makin populer adalah Design‑Based Learning (DBL), juga dikenal sebagai design‑based instruction, yang meramu elemen inquiry dengan proses desain, mulai dari eksplorasi hingga pembuatan produk nyata.
Belajar dengan Membuat: Esensi DBL
Alih-alih sekadar menerima materi dari guru, siswa kini berperan sebagai desainer yang merancang solusi dari permasalahan nyata. Di kelas, mereka bisa merancang avatar, model kota, atau prototipe alat sederhana—yang tak hanya jadi karya fisik tetapi juga media pembelajaran mendalam .
UCLA Center X misalnya, sejak 1959 membimbing guru K‑12 menerapkan DBL melalui hands‑on design challenges. Hasilnya, siswa belajar sambil bersenang‑senang, menyusun penalaran, dan mengembangkan kepercayaan diri.
Langkah-langkah DBL: Dari Ide ke Evaluasi
Proses DBL umumnya dibangun dalam siklus berulang:
1. Tentukan masalah atau tantangan desain yang relevan dengan kurikulum (essential question).
2. Guru membimbing siswa untuk mengakses teori dan referensi sebagai bekal desain (just-in-time learning).
3. Siswa membuat prototipe, menguji, dan merevisi desain berdasarkan umpan balik.
4. Evaluasi mencakup refleksi diri dan penilaian sejawat—menggelar diskusi, presentasi, atau portofolio.
Proses ini menghidupkan semangat pagakit learning—belajar sambil melakukan, bukan sekadar mengulang.
Manfaat DBL: Komprehensif dan Inklusif
DBL menawarkan banyak keuntungan:
- Guru memfasilitasi, bukan hanya ceramah. Siswa jadi lebih aktif, produktif, bahkan pembelajar dengan kemampuan transfer, problem solving, komunikasi, dan kerjasama yang meningkat .
- Riset menegaskan, DBL cocok untuk semua murid—termasuk mereka yang punya kebutuhan khusus atau bakat mampu—dan meningkatkan keterlibatan, prestasi tugas, serta kemampuan berpikir kritis .
DBL di Berbagai Tingkatan dan Disiplin
Metode ini fleksibel. Bisa dipakai pada:
- Kelas STEM: misalnya merancang prototipe sensor atau jembatan untuk memahami fisika dan teknik .
- Seni & humaniora: merancang poster sosial atau karya seni digital.
- Pendidikan tinggi: mahasiswa teknik atau arsitektur sering bekerja pada modul desain nyata secara kolaboratif .
Tantangan Implementasi
Meski menjanjikan, DBL bukan tanpa hambatan. Guru harus:
- Siap berperan sebagai fasilitator, bukan pengisi materi.
- Memiliki waktu dan sumber daya seperti alat prototyping dan bahan kreatif.
- Mempunyai ketrampilan menilai desain dan proses refleksi siswa.
Namun, pelatihan seperti yang disediakan oleh Center X membantu guru menyiapkan DBL yang efektif.
Masa Depan Pendidikan: DBL sebagai Fundament
DBL lahir dari pemikiran John Dewey awal abad 20an tentang pengalaman sebagai inti pendidikan . Kini, dalam era digital dan kompleksitas global, DBL menjadi landasan kelas inovatif—di mana siswa belajar sambil menciptakan, bebas berkreasi, dan siap menghadapi tantangan nyata.
