Solstis 21 Juni 2025: Menyambut Hari Terpanjang di Langit Bumi
Surabaya - Tanggal 21 Juni 2025 menjadi momen penting bagi para pencinta astronomi maupun pengamat langit. Di berbagai belahan bumi utara, ini adalah hari dimana Bumi mengalami solstis musim panas atau summer solstice, menandai hari dengan durasi siang terpanjang tahun ini. Meski untuk Indonesia—yang berada di dekat ekuator—perbedaan siang dan malam tak terlalu dramatis, fenomena ini tetap layak dicermati karena memiliki implikasi ilmiah, budaya, dan edukatif.
Apa Itu Solstis?
Secara ilmiah, solstis adalah saat ketika matahari mencapai titik paling utara atau selatan di langit akibat kemiringan sumbu rotasi Bumi sekitar 23,5°, sebelum kemudian bergeser kembali. Untuk juni solstis, posisi matahari tepat berada di atas Tropic of Cancer, paling utara sepanjang tahun. Kata solstice sendiri berasal dari bahasa Latin “solstitium”, yang berarti “matahari berhenti”—menunjukkan titik balik trajektori matahari harian.
Kapan dan Bagaimana Terjadinya pada 2025?
Momen puncak solstis tahun ini terjadi pada 21 Juni 2025 pukul 09.42 WIB (02.42 UTC). Meskipun begitu, pelabelan tanggal kadang bervariasi antara 20 atau 21 Juni tergantung zona waktu.
Di belahan bumi utara, hari itu mencatat durasi siang terlama, sedangkan malam menjadi yang paling pendek. Namun perlu dicatat, suhu tertinggi musim panas biasanya baru terjadi beberapa minggu setelah solstis karena efek thermal inertia—atmosfer dan laut butuh waktu untuk menyerap panas.
Dampak dan Peranannya di Indonesia
BRIN menjelaskan, meski solstis juni terjadi di belahan utara, dampaknya terasa juga di Indonesia. Matahari tampak 'berhenti' bergerak utara sebelum bergeser kembali, sebagai bagian dari siklus tahunan posisi matahari. Bagi Indonesia, momen ini biasanya menandai mulainya musim kemarau, sesuai pola peralihan musim yang diamati secara astronomis.
Selain itu, titik balik matahari ini berperan penting dalam kalender pertanian tradisional Indonesia, seperti sistem Pranata Mangsa, yang merujuk pada fenomena alam sebagai acuan awal tanam atau panen.
Pengamatan dan Perayaan Budaya
Fenomena solstis telah dirayakan sejak zaman kuno. Situs seperti Stonehenge, Giza, atau piramida Maya menunjukkan orientasi bangunannya yang tepat pada matahari solstis. Even modern seperti ritual pagi di Stonehenge masih memikat ribuan orang setiap tahun .
Meski di Indonesia tidak ada ritual besar-besaran, solstis layak dijadikan momen refleksi ilmiah: pengamatan posisi matahari, mempelajari fenomena atmosfer, atau menyusun jadwal pengamatan astronomi selanjutnya.
Solstis 21 Juni 2025 bukan sekadar fenomena langit; ini titik balik yang sarat makna ilmu, budaya, dan lingkungan. Di Indonesia, solstis menandai awal kemarau, sementara secara global, ia membuka musim panas utara lengkap dengan tradisi dan ritual turun-temurun. Bagi satuan pendidikan, ini momentum untuk mengintegrasikan konsep dasar astronomi ke dalam riset dan praktik pendidikan bermuatan kontekstual
