Hari Wayang Nasional 2025: Tema, Sejarah, dan Relevansi bagi Masyarakat serta Pendidik
Surabaya - Setiap tanggal 7 November, Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap seni pewayangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Nusantara. Walaupun bukan hari libur nasional, momentum ini menjadi ajang untuk mengingatkan bahwa wayang bukan sekadar tontonan, melainkan gudang nilai moral, kearifan lokal, dan narasi sejarah yang hidup.
Jejak Sejarah yang Panjang
Asal-usul wayang dapat ditelusuri jauh ke masa lampau. Beberapa literatur menyebut bahwa bentuk awal wayang telah muncul sejak masa pra-sejarah sebagai bagian dari ritual masyarakat agraris di Nusantara. Pada tanggal 7 November 2003, UNESCO mengakui wayang sebagai warisan dunia tak benda, yang kemudian menjadi salah satu alasan penetapan hari peringatan nasional.
Penetapan resmi Hari Wayang Nasional dilakukan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018 tertanggal 17 Desember 2018. Dengan keputusan tersebut, pemerintah menetapkan bahwa setiap 7 November bukan sekadar tanggal simbol, tetapi juga menjadi momentum pengaktifan program pelestarian wayang di berbagai tingkatan, dari sekolah hingga komunitas seni.
Apa Makna Peringatan untuk Masyarakat Umum?
Bagi masyarakat luas, Hari Wayang Nasional 2025 adalah panggilan untuk melihat kembali warisan budaya kita dengan lensa baru. Seni wayang mengajak kita menyimak nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, hormat terhadap sesama, dan keseimbangan dalam kehidupan. ([RRI][3]) Dalam era digital dan globalisasi, keberadaan wayang juga dihadapkan pada tantangan pelestarian: bagaimana agar generasi muda tetap tertarik, bagaimana cara inovatif memperkenalkan wayang tanpa kehilangan esensi, dan bagaimana komunitas lokal serta sekolah dapat berperan aktif.
Selain itu, pengenalan wayang juga memberi peluang untuk memperkuat identitas nasional, memupuk rasa kebanggaan terhadap budaya sendiri, dan mendorong pariwisata budaya lokal. Saat peringatan 2025, banyak kota dan kabupaten yang merancang acara seperti pameran wayang, pertunjukan dalang muda, hingga lomba kreasi wayang kontemporer yang memadukan teknologi.
Perspektif bagi Pendidik dan Sekolah
Bagi pendidik, Hari Wayang Nasional 2025 menyediakan ruang yang sangat kaya untuk kegiatan pembelajaran lintas mata pelajaran. Misalnya dalam pelajaran seni budaya, wayang bisa dikaji dari sisi teknik pewayangan, jenis-jenis wayang kulit atau wayang golek, hingga makna simbolik tokoh-tokohnya. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia atau sejarah, guru dapat mengajak siswa membaca naskah wayang, mengidentifikasi konflik, tokoh, dan pesan moral yang terkandung. Di pelajaran karakter atau kewargaan, diskusi dapat diarahkan pada nilai kepemimpinan dari tokoh wayang seperti Arjuna atau Bima, atau bagaimana tokoh-antagonis menyiratkan keburukan sifat.
Salah satu upaya konkret adalah membuat proyek pembelajaran seperti ‘membuat wayang sendiri’ atau ‘menulis cerita wayang modern’ yang relevan dengan konteks siswa saat ini. Dengan demikian wayang tidak hanya dipelajari sebagai objek budaya pasif, tetapi diaktifkan menjadi bagian dari kegiatan inovatif di sekolah. Tema “Wayang untuk Pendidikan Karakter dan Identitas Bangsa” sangat cocok diintegrasikan ke dalam modul pembelajaran tematik.
Tantangan dan Peluang Ke Depan
Meskipun peringatan tahunan terus digulirkan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi agar wayang tetap relevan di tengah generasi yang akrab dengan teknologi. Tantangan tersebut termasuk: menurunnya jumlah dalang tradisional yang aktif, terbatasnya dukungan finansial untuk komunitas pewayangan, serta kurangnya akses publik terhadap pertunjukan wayang modern yang menarik generasi Z. Namun dari sisi peluang, teknologi digital justru membuka jendela baru: wayang versi animasi, pertunjukan daring, aplikasi edukasi wayang, dan kolaborasi lintas disiplin (seni, digital media, pendidikan) bisa menjadi cara agar wayang tetap hidup dan berkembang.
Pada perayaan 2025, salah satu hal yang menarik ialah penggunaan logo resmi yang dirilis oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) sebagai bagian dari kampanye digital. Logo tersebut mengandung simbol angka 7 (untuk 7 November) dan elemen wayang yang dipadukan dengan gelombang modernisasi, yang menurut media menggambarkan perjalanan panjang seni wayang dan transformasinya di era kontemporer.
Refleksi dan Aksi
Hari Wayang Nasional 2025 bukan hanya kalender budaya. Ia adalah panggilan untuk bertindak—untuk menonton pertunjukan, mengajak anak-anak ke dalang terdekat, membaca cerita wayang, atau bahkan memproduksi sendiri kreasi wayang di sekolah dan komunitas. Bagi guru dan sekolah, peringatan ini adalah kesempatan untuk menghubungkan budaya dengan nilai-nilai karakter dan inovasi pembelajaran. Bagi masyarakat umum, ini adalah momen merayakan kekayaan budaya bangsa dan memastikan bahwa warisan ini tidak mati tergerus zaman. Seiring langkah digital yang terus maju, semoga wayang tetap hidup, berkembang, dan membentuk generasi yang sadar akan akar budaya sekaligus siap menghadapi masa depan.
