Kenaikan Usia Harapan Hidup Indonesia 2025 dan Implikasinya bagi Masyarakat serta Mahasiswa
Surabaya - Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan usia harapan hidup atau umur harapan hidup saat lahir di Indonesia naik menjadi 74,47 tahun pada 2025, meningkat 0,32 tahun dibanding tahun 2024. Kenaikan ini menjadi salah satu pendorong sehingga Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada 2025 juga tercatat naik menjadi 75,90, sehingga negara masuk kategori IPM tinggi. Angka-angka ini disampaikan BPS melalui siaran pers resmi yang dirilis pada awal November 2025.
Mengapa usia harapan hidup naik?
Kenaikan usia harapan hidup tidak muncul tiba-tiba. Beberapa faktor struktural memainkan peranan penting: akses kesehatan yang semakin meluas, program imunisasi dan gizi yang lebih baik, perbaikan layanan kesehatan ibu dan anak, serta peningkatan pendidikan yang memengaruhi perilaku hidup sehat. Selain itu, pertumbuhan ekonomi riil per kapita juga memberi ruang bagi peningkatan kualitas layanan dasar yang berdampak pada panjang umur. BPS mencatat semua komponen penyusun IPM mengalami perbaikan pada 2025.
Siapa yang paling diuntungkan dan di mana ketimpangan masih terlihat
Meskipun angka nasional naik, distribusi umur harapan hidup masih tidak merata antar wilayah. Provinsi di Pulau Jawa dan daerah perkotaan besar umumnya mencatat angka yang lebih tinggi dibanding provinsi terpencil dan daerah dengan layanan kesehatan terbatas. Perbedaan akses fasilitas kesehatan, sanitasi, dan pendidikan menjadi penyebab utama ketimpangan ini. BPS menyediakan tabel per provinsi yang menunjukkan variasi angka umur harapan hidup sehingga pembuat kebijakan daerah dapat menempatkan intervensi tepat sasaran.
Apa arti peningkatan ini bagi masyarakat umum?
Secara praktis, hidup lebih lama berarti perubahan kebutuhan sosial dan ekonomi. Keluarga, komunitas, dan pemerintah harus menyiapkan kebijakan jangka panjang terkait perawatan lansia, jaminan sosial, dan layanan kesehatan kronis. Perubahan demografi ini juga menuntut perencanaan kota yang ramah lansia, akses transportasi, dan fasilitas kesehatan primer yang mudah dijangkau. Sementara peningkatan usia harapan hidup adalah capaian positif, ia juga menempatkan tekanan pada sistem proteksi sosial jika tidak diantisipasi sejak dini.
Pelajaran untuk mahasiswa dan penelitian terapan
Bagi mahasiswa, khususnya yang menekuni kesehatan masyarakat, demografi, ekonomi pembangunan atau perencanaan kota, data BPS ini membuka banyak peluang penelitian dan pengabdian masyarakat. Studi bisa fokus pada analisis determinan lokal yang membuat satu daerah lebih unggul dalam meningkatkan umur harapan hidup, evaluasi program gizi dan imunisasi, hingga riset tentang model perawatan lansia berbasis komunitas yang murah dan berkelanjutan. Data BPS yang tersedia per provinsi dan provinsi/kabupaten menjadi sumber primer yang kaya untuk skripsi, tesis, dan proyek multidisiplin.
Dampak pada sektor pendidikan dan tenaga kerja
Dengan populasi yang hidup lebih lama, struktur usia penduduk perlahan berubah. Ini memberi implikasi pada pasar tenaga kerja, kebutuhan pendidikan seumur hidup, dan desain kurikulum. Universitas dan lembaga pelatihan perlu mempertimbangkan program pembelajaran lanjutan untuk pekerja usia menengah dan lansia yang ingin tetap produktif. Selain itu, guru dan dosen dapat memasukkan isu penuaan, kesehatan publik, dan kebijakan sosial ke dalam materi kuliah agar lulusan siap bekerja di era demografis baru.
Kewaspadaan: angka rata-rata tidak menjamin kualitas hidup
Penting diingat bahwa angka umur harapan hidup adalah indikator rata-rata yang tidak serta merta menggambarkan kualitas hidup sepanjang tahun-tahun yang ditambahkan. Pertanyaan penting adalah apakah tahun-tahun tambahan itu hidup dalam keadaan sehat atau justru memperpanjang masa hidup dengan penyakit kronis yang menurunkan kualitas hidup. Oleh karena itu, fokus kebijakan harus tidak hanya memanjangkan umur tetapi juga meningkatkan tahun hidup sehat bebas kecacatan. Penekanan pada pencegahan penyakit tidak menular, pengelolaan hipertensi dan diabetes, serta promosi aktivitas fisik menjadi kunci.
Apa yang harus dilakukan pembuat kebijakan sekarang?
Berdasarkan data BPS, rekomendasi kebijakan yang masuk akal meliputi penguatan layanan primer, perluasan program promotif dan preventif kesehatan, penyesuaian program jaminan sosial untuk mencakup kebutuhan lansia, serta investasi pada pendidikan kesehatan masyarakat. Selain itu, intervensi terarah pada daerah tertinggal harus dipercepat untuk mengecilkan kesenjangan antar daerah. Data spasial dari BPS membantu identifikasi wilayah prioritas sehingga alokasi sumber daya menjadi lebih efektif.
Kenaikan angka bukan akhir, melainkan awal agenda publik baru
Kenaikan usia harapan hidup Indonesia menjadi 74,47 tahun pada 2025 adalah capaian penting yang mencerminkan perbaikan dalam banyak aspek kehidupan sosial dan ekonomi. Namun capaian ini juga mengundang tantangan baru yang memerlukan respons terencana dari pemerintah, sektor pendidikan, dan masyarakat. Bagi mahasiswa, data ini menawarkan lahan penelitian yang luas dan peluang kontribusi nyata melalui proyek terapan. Bagi publik, ini adalah panggilan untuk berpikir jangka panjang tentang kesehatan, kesejahteraan, dan solidaritas antargenerasi. Pantauan berkala atas data BPS akan membantu menilai apakah perbaikan ini berlanjut dan merata ke seluruh penjuru tanah air.
