Mengapa Orang Percaya Air Sinkhole Sumbar Berkhasiat? Perspektif Pseudoscience dan Fakta Ilmiah
Surabaya - Fenomena sinkhole yang muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat pada awal Januari 2026 bukan hanya menarik perhatian karena ukurannya, tetapi juga karena riuhnya percaya bahwa air dari dasar lubang tersebut berkhasiat dan dapat menyembuhkan penyakit. Berita tentang orang yang mengantre membawa pulang air sinkhole itu bahkan sempat viral di media sosial. Namun di balik keyakinan itu, ada penjelasan ilmiah dan dinamika psikologis yang layak dipahami masyarakat.
Fenomena Alam yang Menarik Rasa Penasaran
Sinkhole adalah lubang tanah yang terjadi akibat runtuhnya lapisan tanah di permukaan karena rongga di bawahnya tidak lagi mampu menahan beban. Proses seperti ini umumnya terjadi ketika air tanah melarutkan batuan tertentu di bawah permukaan, sehingga rongga terbentuk dan akhirnya tanah di atasnya amblas. Air kemudian terkumpul di dasar lubang itu, terkadang memantulkan cahaya sehingga tampak jernih atau bahkan sedikit kebiruan.
Di kasus Sumatera Barat tersebut, air dari sinkhole berubah dari cokelat menjadi sangat jernih dan berwarna kebiruan, yang dari jauh terlihat menarik dan berbeda dari lingkungan sekitarnya. Perubahan visual inilah yang sering kali memicu interpretasi berbeda oleh masyarakat luas.
Pseudoscience dan Keyakinan Khasiat Air
Banyak warga percaya bahwa air sinkhole memiliki khasiat tertentu, termasuk potensi menyembuhkan penyakit atau membawa berkah. Kepercayaan semacam ini sering muncul ketika sebuah fenomena alam tampak misterius atau jarang terjadi, sementara penjelasan ilmiahnya belum dipahami secara luas. Dalam kondisi seperti itu, narasi popular, cerita turun temurun, atau sekadar sensasi viral di media sosial dengan cepat menyebar dan membentuk keyakinan bersama.
Dalam ranah pseudoscience, yaitu klaim atau kepercayaan yang tampak ilmiah, tetapi tidak didukung bukti ilmiah yang kuat. Fenomena natural sering dihubungkan dengan manfaat kesehatan, spiritual, atau keajaiban. Misalnya, keyakinan bahwa air dari mata air tertentu atau lubang bawah tanah memiliki energi khusus yang bisa menyembuhkan penyakit. Kepercayaan seperti ini sering mengabaikan fakta bahwa air jernih belum tentu aman atau bebas dari kontaminan biologis dan kimiawi, apalagi sumbernya berasal dari sistem bawah tanah yang belum dianalisis secara mendalam oleh laboratorium resmi.
Dalam kasus sinkhole Sumbar, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh informasi tidak valid yang menyatakan air itu bisa menyembuhkan penyakit, karena hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim semacam itu.
Faktor Sosial Budaya dan Persepsi Alam
Kepercayaan akan khasiat air alam bukan fenomena baru di banyak bagian dunia. Dalam sejumlah komunitas, baik di Indonesia maupun di luar negeri, terdapat kisah tentang mata air suci, air kolam gua yang dianggap membawa kesembuhan, atau sumber air lain yang diyakini memiliki dampak positif bagi kesehatan. Belum ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan klaim manfaat kesehatan tersebut, tetapi narasi lokal, cerita spiritual, dan rasa ingin menemukan makna dalam ketidakjelasan alamiah sering memperkuat kepercayaan itu dalam komunitas tertentu.
Dalam konteks psikologi sosial, sebuah fenomena yang tidak dipahami atau dianggap langka sering kali diisi dengan cerita yang memberi makna, baik dalam bentuk legenda maupun harapan akan sesuatu yang lebih positif. Ketika banyak orang percaya sesuatu itu baik atau memberikan keberuntungan, efek semacam keyakinan emosional dan sosial dapat memperkuat persepsi akan khasiat tersebut, meskipun tidak ada bukti ilmiah. Hal ini sering disebut sebagai confirmation bias dimana orang cenderung mencari atau memperkuat informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.
Kenapa Bukti Ilmiah Itu Penting?
Para ahli geologi dan lembaga resmi telah menekankan bahwa belum ada analisis ilmiah yang menunjukkan bahwa air sinkhole memiliki manfaat kesehatan tertentu, bahkan baiknya masyarakat berhati-hati sebelum mengambil atau mengonsumsi air dari sumber yang belum diuji. Kajian awal memang dilaksanakan untuk memeriksa sifat air dan tanah di lokasi sinkhole, tetapi hasil analisis lengkap masih terus berlangsung.
Selain itu, air yang tampak bening belum tentu aman untuk diminum. Ada kemungkinan air tersebut mengandung mikroba, bakteri, atau unsur kimia lain yang belum diketahui. Bahkan wakil gubernur Sumatera Barat pernah menegaskan bahwa air tersebut bukan untuk langsung diminum karena bisa saja mengandung bakteri atau kontaminan lain, dan fenomena seperti ini merupakan peristiwa alam biasa, bukan sesuatu yang luar biasa dari segi kesehatan.
Fenomena Alam vs. Pseudoscience
Dari perspektif ilmu pengetahuan, fenomena alam seperti sinkhole adalah kejadian geologi yang umum dan terjadi karena proses fisik yang dapat dijelaskan. Sedangkan klaim tentang khasiat air yang belum diuji secara ilmiah termasuk dalam ranah pseudoscience, dimana narasi yang populer di masyarakat sering beredar tanpa dukungan data penelitian yang valid. Perbedaan ini perlu dipahami oleh publik agar tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Pemahaman yang sehat tentang fenomena alam membantu masyarakat meminimalkan risiko kesehatan dan keselamatan. Menganggap air itu sebagai “ajaib” bisa berimplikasi serius jika orang mengabaikan risiko kontaminasi atau potensi bahaya lain dari fenomena geologi. Bukti ilmiah, pengujian laboratorium, dan rekomendasi ahli tetap menjadi acuan penting dalam menilai klaim kesehatan yang beredar.
