Perplexity AI Update 2025: Mesin Pencari Pintar yang Kian Diminati Mahasiswa dan Peneliti
Surabaya - Di tengah derasnya arus informasi digital, kebutuhan akan alat bantu pencarian yang cepat, akurat, dan relevan semakin mendesak. Tahun 2025 menjadi saksi lahirnya berbagai terobosan kecerdasan buatan (AI), salah satunya yang sedang naik daun adalah Perplexity AI. Berbeda dengan mesin pencari tradisional, Perplexity tidak hanya menampilkan daftar tautan, tetapi menyajikan jawaban dalam bentuk narasi yang terstruktur, lengkap dengan sumber rujukan.
Format semacam ini membuat Perplexity cepat diterima, terutama di kalangan mahasiswa dan peneliti. Di saat kebutuhan literatur akademik menuntut akurasi dan efisiensi, Perplexity hadir sebagai jembatan antara data yang berserakan di internet dengan kebutuhan analisis yang lebih terarah.
Dari Startup ke Pemain Global
Perplexity didirikan pada 2022 oleh sekelompok insinyur yang ingin menghadirkan alternatif mesin pencari berbasis kecerdasan buatan. Visi awal mereka sederhana: membuat mesin pencari yang bukan hanya memberikan link, tetapi juga penjelasan utuh.
Seiring waktu, Perplexity mendapat sambutan luas. Kolaborasi dengan perusahaan besar seperti Nvidia dan dukungan investasi dari berbagai venture capital memperkuat posisinya. Pada 2023, mereka meluncurkan Copilot, fitur yang memungkinkan pengguna melakukan eksplorasi mendalam dengan bimbingan AI. Lalu hadir pula Pro Search yang menggabungkan pencarian real-time dengan basis data terverifikasi.
Memasuki 2025, Perplexity tidak lagi sekadar “alternatif Google,” tetapi mulai membentuk identitas sendiri. Terlebih dengan hadirnya Comet Browser, Perplexity kini menawarkan pengalaman pencarian yang lebih interaktif, menggabungkan fungsi browsing dengan diskusi langsung bersama asisten AI.
Fitur Baru Perplexity 2025
Beberapa pembaruan besar dihadirkan tahun ini, yang membuat Perplexity semakin relevan untuk dunia akademik:
- Deep Research: Fitur ini mampu merangkum informasi dari berbagai sumber dalam satu laporan ringkas. Mahasiswa yang sedang menulis skripsi atau peneliti yang membutuhkan tinjauan pustaka dapat menghemat banyak waktu.
- Assistant di Android & iOS: Asisten cerdas Perplexity kini bisa digunakan lintas aplikasi, membantu mencari referensi, menyiapkan ringkasan, hingga mendukung aktivitas harian.
- Internal Knowledge Search: Pengguna bisa mengunggah dokumen pribadi (PDF, Word) lalu menelusurinya dengan pertanyaan berbasis bahasa alami. Ini memudahkan pencarian cepat dalam materi kuliah atau laporan penelitian.
- Comet Browser: Inovasi terbaru Perplexity berupa browser berbasis AI. Pengguna dapat berselancar di internet sekaligus berdialog dengan AI dalam satu platform.
Dengan kombinasi ini, Perplexity semakin mirip “asisten riset digital” yang siap menemani di setiap langkah studi maupun penelitian.
Panduan Pemakaian untuk Mahasiswa dan Peneliti
Bagi mahasiswa dan peneliti, Perplexity menawarkan sejumlah keunggulan praktis. Namun, agar hasil yang diperoleh lebih optimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, gunakan pertanyaan yang jelas dan spesifik. Misalnya, alih-alih bertanya “teori belajar,” lebih baik menuliskan “teori konstruktivisme Piaget dalam pembelajaran IPA.” Dengan begitu, jawaban yang diberikan lebih relevan.
Kedua, manfaatkan Deep Research untuk analisis mendalam. Fitur ini sangat berguna dalam menyusun kerangka penelitian atau saat mencari perbandingan literatur.
Ketiga, unggah dokumen pribadi bila ingin melakukan pencarian internal. Bayangkan seorang mahasiswa pascasarjana yang memiliki ratusan halaman data penelitian. Dengan Perplexity, ia cukup bertanya “temukan hasil survei tentang literasi digital” dan sistem akan menampilkan bagian relevan dari dokumen.
Keempat, jangan lupa memeriksa sitasi. Perplexity selalu menyertakan tautan ke sumber, namun validasi tetap perlu dilakukan. Dunia akademik menuntut kehati-hatian, dan AI hanyalah alat bantu, bukan penentu akhir.
Optimalisasi Penggunaan
Selain panduan dasar, ada beberapa trik agar pemakaian Perplexity lebih maksimal. Gunakan perintah berbahasa alami yang panjang (long-tail query) agar hasil lebih terfokus. Manfaatkan fitur follow-up question untuk memperdalam pencarian tanpa harus mengulang dari awal.
Bagi peneliti, Perplexity bisa dipakai sebagai alat brainstorming. Misalnya, untuk merancang hipotesis atau membandingkan pendekatan metodologis dari berbagai jurnal. Sementara mahasiswa bisa menggunakannya untuk menyusun presentasi atau menganalisis artikel populer.
Di luar dunia akademik, Perplexity juga mulai banyak dipakai jurnalis, pengajar, hingga profesional yang membutuhkan ringkasan cepat dari berita atau laporan panjang.
Pencapaian dan Kolaborasi
Tahun 2025 menjadi bukti keseriusan Perplexity dalam memperluas pengaruhnya. Selain meluncurkan Comet Browser, Perplexity menggandeng berbagai media global untuk menghadirkan data real-time yang kredibel.
Kolaborasi dengan Nvidia memperkuat kemampuan komputasi, sementara kerja sama dengan sejumlah universitas membuka peluang riset bersama. Perplexity bahkan disebut-sebut mulai merambah ke bidang pendidikan formal, dengan uji coba di beberapa perguruan tinggi luar negeri sebagai “asisten belajar resmi.”
Ke depan, langkah semacam ini bisa saja masuk ke kampus-kampus Indonesia, mengingat tren digitalisasi pendidikan yang semakin kuat.
Catatan Kritis: Antara Manfaat dan Tantangan
Meski penuh terobosan, Perplexity tidak bebas dari kritik. Seperti halnya model AI lain, ada kemungkinan terjadinya hallucination atau kesalahan informasi. Beberapa laporan menyebutkan Perplexity terkadang menampilkan referensi yang tampak meyakinkan tetapi kurang akurat.
Selain itu, ada perdebatan soal etika. Apakah penggunaan Perplexity dalam menulis esai mahasiswa bisa dikategorikan plagiarisme? Bagaimana batas antara “bantuan AI” dan “karya asli”? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini masih terus diperbincangkan di ranah akademik.
Namun, seperti teknologi lain, kuncinya ada pada cara manusia menggunakannya. Dengan literasi digital yang baik, Perplexity bisa menjadi mitra yang berharga tanpa menyalahi prinsip integritas akademik.
Relevansi untuk Dunia Pendidikan
Di Indonesia, adopsi teknologi pendidikan (edutech) meningkat pesat, terutama pascapandemi. Kehadiran Perplexity membuka peluang baru dalam mempercepat literasi akademik. Mahasiswa dapat lebih mudah mengakses pengetahuan, sementara dosen bisa menjadikan Perplexity sebagai sarana diskusi kritis di kelas.
Bahkan, Perplexity dapat dijadikan contoh nyata dalam pembelajaran literasi digital: bagaimana menilai kredibilitas sumber, bagaimana memanfaatkan teknologi secara etis, serta bagaimana membangun keterampilan analisis kritis di era AI.
Jika dikelola dengan baik, Perplexity tidak hanya mempercepat proses belajar, tetapi juga mengajarkan mahasiswa untuk lebih selektif dan bijak dalam berinteraksi dengan teknologi.
