Puasa Asyura dan Tasu’a: Hikmah Dua Hari Suci Muharram
Surabaya - Sebagai salah satu ibadah sunnah paling utama, puasa Asyura dijalankan sejumlah umat Islam setiap 10 Muharram. Di tahun 2025, puasa Asyura akan jatuh pada Minggu, 6 Juli, sedangkan puasa Tasua (9 Muharram) tepat sehari sebelumnya pada Sabtu, 5 Juli. Tradisi ini membawa jejak sejarah kuat dan memberi nilai spiritual mendalam karena puasa Tasu’a dan Asyura merupakan amalan spiritual tinggi dengan tempat istimewa setelah puasa di bulan Ramadan, puasa Arafah dan puasa Tarwiyah. Tafsiran kata “Muharram” berarti “yang diharamkan” karena bulan ini termasuk dalam empat bulan suci saat peperangan tidak dibenarkan.
Asal-usul dan Sejarah Puasa
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi menjalankan puasa pada 10 Muharram untuk mengenang penyelamatan Nabi Musa AS dari Firaun. Beliau kemudian menegaskan, “Kami lebih berhak kepada Musa dibanding kalian,” dan umat Islam pun dianjurkan berpuasa pada hari tersebut ([laznasalirsyad.org][2]). Untuk membedakan diri, Nabi SAW menambahkan puasa sehari sebelumnya—hari Tasu’a—walau beliau wafat sebelum sempat melakukannya tahun berikutnya.
Hikmah & Keutamaan Spiritual
Puasa Asyura memiliki beberapa keutamaan yang luar biasa. Hadis menyebutnya sebagai “puasa terbaik setelah Ramadan”, sekaligus menghapus dosa setahun yang lalu dan memberi pahala setara 30 hari puasa. Menjalankannya bersama puasa Tasu’a juga menjadi cara kuat untuk membedakan diri dari kebiasaan Yahudi yang hanya sehari ketika itu.
Tata Cara & Niat Beribadah
Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura mengikuti alur puasa sunnah pada umumnya: bersahur sebelum fajar, menahan diri hingga maghrib, dan berbuka saat matahari terbenam. Niat puasa diucapkan malam sebelumnya atau pagi hari sebelum fajar, sebagai niat pribadi karena Allah Ta’ala.
Contoh niatnya dalam bahasa Arab-latin:
Puasa Tasu’a (9 Muharram):
Nawaitu shauma yaumi Tasu’a sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Puasa Asyura (10 Muharram):
Nawaitu shauma yaumi Asyura sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Tingkatan Praktik dan Variasinya
Menurut mayoritas ulama Syafi’i dan Ahmad, terdapat tiga tingkatan puasa Muharram:
- Tingkatan tertinggi: puasa tiga hari (9, 10 & 11 Muharram)
- Menengah: puasa dua hari (9 & 10 Muharram)
- Dasar: puasa hanya tanggal 10 Asyura
Tingkat tertinggi disebut lebih afdhal untuk memastikan keabsahan tanggal dan membedakan diri dari kebiasaan agama lain.
Puasa Tasu’a dan Asyura membawa makna spiritual mendalam: mengenang peristiwa bersejarah, melatih disiplin batin, membedakan diri dari tradisi terdahulu, dan mendapatkan pahala luar biasa. Dua hari di Muharram ini menjadi titik penting untuk menyusun niat baru dalam ibadah dan pembelajaran. Semoga kita semua mampu menjalankan ibadah ini dengan kesungguhan, serta menerjemahkannya menjadi karakter baik dan kontribusi nyata di kampus maupun masyarakat.
